Kajian Jumat 3# Tawakal

Tawakal secara bahasa berarti menyerahkan, mewakilkan, memasrahkan dan sebagainya.
Tawakal secara istilah berarti penyerahan secara totalitas urusan duniawi & akhirat kepada Alloh azza wa jalla setelah seorang hamba berikhtiar (usaha).

3 Macam Kepasrahan yang diserahkan kepada sesama Manusia :

1. Kepasrahan Syirik yang Besar : contoh seorang manusia meminta kepada orang lain yang seharusnya meminta kepada Alloh azza wa jalla.

2. Kepasrahan dari Syirik yang Kecil : contoh seorang karyawan meyakini kalau rezeki itu hanya ada bila bekerja di sebuah perusahaan.

3. Kepasrahan yang diperbolehkan : contoh, menyerahkan suatu urusan dunia kepada orang yang ahli/ berkompeten mengurusnya.

Bagaimana bentuk penyimpangan ketika Tawakal kepada Alloh ?

Bentuknya banyak, seperti mengenyampingkan urusan dunia seakan-akan urusan dunia itu bukanlah urusan Alloh azza wa jalla.

“Alloh azza wa jalla memberikan apa yang dibutuhkan seorang hamba, bukan apa yang diinginkan.”

Sebuah ucapan, “Akan masuk surga suatu kaum yang hati-hatinya seperti burung.” Maksudnya, para burung ini berusaha pergi terbang sejak pagi hari menjelang untuk mendapatkan makanan.

Nah, ini mungkin ada kaitannya dengan kajian jumat sebelumnya. Tabiat manusia yang lain itu adalah suka berkeluh-kesah. Tawakal itu harus dilakukan semampunya. Namun semampunya itu “mastatho’tum“.

Alkisah ada seorang guru yang dalam pengajarannya tentang ‘tawakal’ ini melakukan metode yang unik. Beliau ajak murid-muridnya berlari mengelilingi lapangan. Satu kali putaran. Dua kali putaran. Lalu ada seorang muridnya yang lelah dan menyerah. Tiga kali putaran, dan bertambah muridnya yang menyerah untuk berlari. Sang guru dan segelintir muridnya masih berlalu hingga 8 kali putaran, dan akhirnya, tinggallah sang guru berlari sendiri ke putaran ke 9, 10, 11 dan akhirnya tumbang juga di setengah putaran ke 12 karena pingsan kelelahan.

Para murid terkejut dan akhirnya membantu gurunya untuk sadar dan memberitahukan keadaaannya.

“Wahai guru, kenapa engkau berlari terus hingga pingsan seperti itu ?”

Sang guru menjawab, “Aku sedang mengajarkan tentang tawakal semampunya, mastatho’tum. Aku berlari terus semampu tubuh dan jiwa ini mampu hingga batas kemampuanku. Begitulah tawakal bila dikatakan semampunya diri manusia.

wallohu a’lam

(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *