5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Pakai Pinjaman Online

 

Banyaknya aplikasi pinjaman online cepat cair bayar bulanan, mungkin bisa memudahkan sekaligus menjangkau banyak orang yang belum mendapat akses ke bank atau lembaga pinjaman lain. Sayangnya, keberadaan aplikasi pinjaman online ini belum dibarengi dengan edukasi yang mumpuni di masyarakat. 

Di sisi lain, aplikasi pinjaman online menawarkan kemudahan dan kecepatan seseorang dalam mendapatkan pinjaman lewat smartphone. Sehingga, banyak orang asal pinjam uang tanpa memperhitungkan berbagai aspek pada aplikasi pinjaman online itu sendiri. Terutama legalitas dan mekanisme pinjamannya. 

Alih-alih bermanfaat dan menguntungkan, aplikasi pinjaman online justru bisa membawa masalah jika kita tidak teliti dan hati-hati sebelum menggunakannya. Berikut ini ada 5 kesalahan umum yang sering dilakukan orang saat pakai aplikasi pinjaman online. Yuk disimak, supaya kamu tidak melakukan salah satunya!

Tidak tahu tipe jangka waktu pembayaran yang ditetapkan aplikasi fintech

Rata-rata aplikasi pinjaman online cepat cair bayar bulanan, menerapkan tipe jangka waktu pembayaran sekali bayar. Tidak banyak aplikasi pinjaman online yang memberikan opsi pembayaran dengan cicilan tenor. Misalnya pinjam Rp 2 juta, bisa dicicil 3 kali atau tenornya 3 bulan. Yang umum ditawarkan adalah pinjaman perlu dikembalikan secara penuh beserta bunganya dalam tempo atau jangka waktu yang sudah ditentukan. Misalnya: 14 hari, 1 bulan, atau 3 bulan. 

Salah satu contohnya adalah KrediFazz. Aplikasi pinjaman online cepat cair bayar bulanan ini sudah terdaftar di OJK dan menawarkan pinjaman mulai dari Rp 100 ribu sampai dengan Rp 1,5 juta. Jangka waktu yang ditetapkan KrediFazz untuk pembayaran pinjaman secara penuh adalah 30 hari. Sementara suku bunganya adalah sebesar 9% untuk 30 hari dengan biaya administrasi sebesar 6% dari total pinjaman. 

Contohnya: kalau kamu pinjam Rp 1,5 juta di KrediFazz, maka biaya adminnya sebesar Rp 90 ribu dan akan dipotong di awal. Sehingga, uang pinjaman yang akan kamu terima menjadi Rp1.410.000. Sementara suku bunganya adalah sebesar Rp135.000. Dengan simulasi ini, kira-kira, total pinjaman yang harus kamu kembalikan dalam 30 hari adalah sebesar Rp1.635.000. 

Dibanding aplikasi pinjaman sejenisnya, suku bunga yang dimiliki KrediFazz tergolong standar untuk ukuran pinjaman cepat cair. Di mana, banyak aplikasi fintech yang menerapkan suku bunga 0,8% per hari atau mencapai hingga 24% jika temponya 30 hari. Untuk kebutuhan mendesak, yang ditawarkan KrediFazz menurut saya cukup layak dipertimbangkan, meski limitnya tidak terlalu besar. 

Gali lubang tutup lubang

Saking mudahnya mendapatkan pinjaman lewat aplikasi fintech, nggak jarang banyak orang melakukan kesalahan dengan memanfaatkannya untuk gali lubang tutup lubang. Pinjam di fintech A, belum bisa bayar, lalu pinjam lagi di fintech B untuk bayar aplikasi di fintech A. Begitu seterusnya. Atau, karena uang pinjaman digunakan untuk hal konsumtif dan tidak memikirkan kondisi keuangan, penggunaan aplikasi fintech malah membawa kesulitan bagi diri sendiri. 

Pakai banyak aplikasi pinjaman online dalam sekali waktu

Karena masalah tersebutlah, sangat tidak disarankan bagi kamu menggunakan fintech jika tujuannya untuk kebutuhan konsumtif apalagi untuk menutup utang di aplikasi lainnya. Usahakan untuk hanya menggunakan satu fintech dalam satu waktu. Lunasi tagihannya terlebih dulu, baru kamu bisa pinjam lagi atau beralih ke fintech lainnya. 

Asal pinjam tanpa dibarengi kemampuan finansial

Pada dasarnya, kecepatan pencairan dana pinjaman dari aplikasi fintech seperti KrediFazz akan sangat bermanfaat untuk kebutuhan penting yang sangat mendesak. Contoh: perlu biaya tambahan di rumah sakit atau servis kendaraan untuk bekerja. Namun, akan lebih baik jika kita bisa memastikan dulu di awal jika kita mampu membayar tagihan pinjamannya nanti beserta bunganya. Plus menyadari, bahwa rata-rata pinjaman cepat cair akan memberikan suku bunga di atas lembaga pinjaman lainnya karena risiko kredit yang tinggi. Jika hal ini sudah dipahami, manfaat dari pinjaman online akan lebih terasa dan tidak akan membawa dampak buruk di kemudian hari. 

Mudah diiming-imingi iklan yang menggiurkan

Hingga saat ini, OJK dan lembaga berwenang lainnya masih terus berupaya memberantas keberadaan fintech ilegal yang berpotensi merugikan masyarakat. Namun, 1001 cara kerap dilakukan oleh fintech ilegal untuk mendapatkan “nasabah”. Salah satunya lewat strategi marketing di media sosial, SMS marketing, sampai telepon. 

Bukan hanya mempromosikan layanannya, umumnya aplikasi pinjaman ilegal juga menawarkan sesuatu yang too good to be true seperti bisa mendapatkan pinjaman hanya dengan mengeklik link tertentu dan isi data diri. Jika menemui yang seperti ini, hati-hati ya sebab link yang dikirimkan berpotensi mengandung phising atau hanya bermaksud mencuri data-datamu. 

Salah satu cara teraman memilih fintech sebenarnya bisa dengan langsung berkunjung ke situs OJK untuk melihat fintech mana saja yang sudah terdaftar. Baru, setelahnya, kamu bisa mengunduh aplikasinya atau mengakses situsnya. Begitupun sebaliknya, jika menemui sebuah nama fintech di Google atau platform online lain, pastikan kamu mengeceknya dalam daftar fintech resmi di bawah naungan OJK. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.